Cerita Mengharukan Persalinan Caesar Warga Bintara Jaya dan Kartu Sehat

23 Agustus 2017 
2956

BEKASI - Malam itu, cuaca tiba-tiba terkesan dingin membeku. Jari-jari tak bisa bergerak, gemetar bibir terdengar sunyi. Tepatnya Senin 12 Agustus 2017, di RSUD Kota Bekasi, keluarga Dicki Saputra harus memutar otak untuk proses persalinan istrinya. Sebab, warga Bintara Jaya III, Bekasi Barat itu dinyatakan kalau kandungan istrinya berstatus plus 3, setelah melakukan tes urin.

Sebagai lelaki, Dicky tentu tak memahami istilah bahasa medis. Dia pun bertanya apakah berbahaya ? bidang pun menjawab secara global agar Dicky dan istrinya paham. Namun, di tengah penjelasan sang bidan, Dicky diberi saran untuk segera ke rumah sakit untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan. Termasuk bidan itu memberi saran agar membawa Surat Keterangan Tidak Mampu, dari RT dan RW. Maklum Dicky merupakan pria pengangguran selama satu tahun belakangan ini.

Malam itu juga Dicky memboyong istrinya ke RSUD Kota Bekasi. Setelah mendaftar di loket sembilan kemudian istri Dicky langsung dibawa ke instalasi Gawat Darurat kebidanan. Sesaat dokter memeriksakan kondisi kesehatan istrinya, ternyata tekanan tensi masih tinggi. Dokter memvonis perlu adanya tindakan operasi caesar. Meski sudah divonis sesar, Dicky pun dipusingkan mencari ruang ICU dan NICU yang kosong. Akhirnya, pihak rumah sakit menyarankan untuk mencari di RSCM dan RS Persahabatan, Jakarta.

Lagi-lagi ruang yang dicari Dicky penuh semua. Tak mau menyerah, Dicky pun mencari ruang ICU dan NICU yang kosong dengan mendatangi sejumlah rumah sakit. Hasilnya tetap sama, penuh. Waktu berjalan cepat, Dicky terus berlari dengan kejaran waktu yang terus berputar. Tetap sama, hasilnya nihil. Tepat menjelang fajar, pada Selasa 13 Agustus 2017, Dicky harus meneteskan air mata dengan mengusap dadanya. Dicky pasrah, dia menyerahkan semua nasib istri dan calon anaknya itu kepada sang khalik.

Dengan nada terbata-bata, Dicky membisikan langit dengan kondisi yang sekarang dialaminya. Bermodal Rp 300 ribu di saku kantong celananya, Dicky tak tahu harus bagaimana bila proses persalinan istrinya dilakukan sesar. Bukan masalah keuangan saja, Dicky pun harus ditakutkan dengan sodoran surat pernyataan dari rumah sakit yang bermaterai. Dalam surat itu, bila terjadi sesuatu dalam proses persalinan istrinya, dia tidak akan menuntur dokter, bidan dan RSUD Bekasi.

Dengan rasa takut, sedih, dan dalam kepasrahannya, langit pun mulai merespon curhatan Dicky. Tiba-tiba pukul 12.00 siang, sang istri langsung ditangani operasi sesar. Dicky terkejut, karena pertemuannya dengan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak), berkah buatnya.

Rasa terharu diperlihatkan dengan mata Dicky kepada Rahmat Effendi. Pandangan uang yang banyak untuk biaya persalinannya pun tidak jadi bebannya. Apalagi, saat itu juga Dicky langsung dibuatkan Kartu Sehat milik Pemerintah Kota Bekasi.

Teriakan sang puteri (Anak Dicky) pun terdengar dari ruang persalinan. Dicky tetap bersyukur bila kesulitannya bisa teratasi. Bahkan, nama anak perempuannya itu diberikan dengan nama Aulita Pramesti. Nama itu sengaja dibuat dengan sejumlah makna. Aulita dianggap memiliki makna anak urusan Wali Kota, dan Pramesti dianggap para pengambil keputusan.

Cerita ini dipaparkan dari surat terbuka yang didapat redaksi.

NCT

 


comments